10/16/2008

Bagai Burung Bersayap Sebelah

BAGAI BURUNG YANG BERSAYAP SEBELAH


Tulisan ini saya sadur dari salah seorang motivator ulung negeri ini yaitu Gede Prama


Dalam kehidupan sehari-hari kita tak lepas dengan adanya sosialisasi kehidupan bermasyarakat baik dalam skup yang kecil dan paling sederhana yaitu keluarga maupun dengan skup yang luas yaitu sebagai warga Negara.

Meminjam apa yang pernah ditulis Luciano de Crescendo, kita semua sebenarnya lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah dan hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat dengan orang lain.

Adapun indicator-indikator dari perumpamaan diatas dapat kita temui dalam berbagai bidang kehidupan yang terjadi disekitar kita, baik itu di dalam keluarga, perusahaan, bahkan ditingkat pemimpin Negara besarpun dapat kita temui.

DALAM KELUARGA

Ukuran kebahagian sebuah keluarga : tidak pernah ditemukan atau saya temukan sebuah keluarga tanpa kesediaan sengaja untuk 'berpelukan' dengan anggota keluarga yang lain.

DALAM PERUSAHAAN

hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain.

DITINGKAT PEMIMPIN NEGARA

orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau ……… berpelukan bersama orang yang dulu pernah menyiksanya

lebih-lebih kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuh suka cita

Ia tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat semuanya tampak indah dan menyenangkan

Makanya, penulis buku Chicken Soup For The Couple Soul mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar

Begitu besarnya makna dan dampak dari cinta, sampai – sampai ia tidak dapat dibandingkan dengan apapun.

Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak mengenal dan merasakan akibat dan dampak dari cinta.

Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di puncak gunung. Capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia.

Ini semua, mendidik saya untuk hidup dengan pelukan cinta.
Di pagi hari ketika baru bangun dan membuka jendela, saya senantiasa berterimakasih akan pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa saya peluk. Entah itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang rajin menonton film kartun. Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri.

Melihat burung gereja yang memakan nasi yang sengaja diletakkam di pinggir kali , juga menghasilkan pelukan cinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.

Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.

Namun, begitu saya ingat karyawan dan karyawati bawah yang bekerja penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta entah datang dari mana.

Kembali ke pengandaian awal tentang burung dengan sebelah sayap.

Tuhan memang tidak pernah melahirkan manusia yang sempurna

Kita selalu lebih di sini dan kurang di situ. Atau sebaliknya. Kesombongan atau keyakinan berlebihan yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung yang bersayap sebelah, namun memaksa diri untuk terbang.

Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap

Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat apapun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang hanya sebelah

Oleh karena alasan inilah, saya selalu ingat pesan seorang SAHABAT untuk memulai kehidupan setiap hari dengan pelukan

Entah itu memeluk anak, memeluk istri, memeluk kehidupan, memeluk alam semesta, memeluk Tuhan atau di kantor memulai kerja dengan 'memeluk' orang lain.

have a day full of
SMILE, GOOD WORK, SUCCESS & LOVE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar